Tentang Demonstrasi atawa Demons-trasi
Korban telah jatuh atas nama demokrasi. Mungkin, ini bukan yang pertama kali. Seorang Ketua DPRD menjadi korban sebuah demonstrasi yang anarki. Ironisnya, ketua “wakil rakyat” tersebut harus menjadi korban di “rumah rakyat”, yang dibangun dengan “dana rakyat” untuk memperjuangkan “kepentingan rakyat”.
Beberapa hari ini, tayangan sejumlah stasiun TV di negeri ini menampilkan adegan keberingasan massa pada insiden di gedung DPRD Sumatra Utara. Di samping tayangan video, foto-foto ditayangkan TV menunjukkan masa menjelang akhir hidup Abdul Azis Angkat, Sang Ketua DPRD. Massa yang beringas tidak mempedulikan kondisi korban yang sudah terlihat kesakitan dan kepayahan. Bahkan pukulan dan lemparan turut mewarnai gambar-bambar tersebut. Tak heran bila yang kemudian muncul adalah sadisme massa yang menghakimi seseorang yang belum terbukti bersalah. Tak mengherankan pula kalau kemudian muncul kecaman atas perilaku massa tersebut. Berangkat dari gambaran di atas, pertanyaan yang kemudian tersirat, inikah yang dinamakan demokrasi? Haruskah demonstrasi anarkis?
Tentang Demokrasi dan Demonstrasi
Pembahasan tentang demokrasi sudah banyak dikupas oleh para cerdik pandai. Namun satu hal yang perlu dicatat, bahwa demokrasi bukanlah kebebasan yang sebebas-bebasnya. Kebebasan yang dimiliki setiap individu akan berhadapan dengan kebebasan yang dimiliki individu lain. Adanya perlindungan terhadap hak masing-masing individu menjadikan demokrasi memiliki batasan-batasan yang boleh dilalui dan tidak. Di sinilah aturan main diperlukan agar kebebasan dalam ruang demokrasi dapat berlangsung dengan santun. Nilai-nilai tentang kesantunan dalam berdemokrasi sepertinya masih jauh panggang dari api.
Menyimak fenomena demonstrasi melalui tayangan media massa menunjukkan bahwa sepuluh tahun reformasi belum berhasil dalam meningkatkan kesadaran menyuarakan gagasan di alam demokrasi. Banyaknya demonstrasi yang cenderung anarkis menunjukkan bahwa demonstrasi sekadar menjadi “alat pemaksa kehendak” mengatasnamakan demokrasi. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari sosio-historis demonstrasi itu sendiri yang mampu mendongkel rejim ORLA dan ORBA, dan menjadi masterpieces di negeri ini. Kekuatan gerakan mahasiswa sebagai kelas menengah dalam menggalang kekuatan ternyata mampu melengserkan rejim yang sedemikian kuatnya.
Di era reformasi, demonstrasi tidak lagi menjadi milik gerakan mahasiswa. Demonstrasi seakan sudah menjadi milik “rakyat”, yang terkadang digunakan untuk menyelesaikan persoalan, yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan dialog. Menyimak tayangan pemberitaan di layar TV, semakin tingginya frekuensi demonstrasi memunculkan kesan bahwa demonstrasi telah menjadi hobi yang mewabah. Bahkan dalam beberapa hal sudah menjadi profesi ketika azas supply and demand telah menempatkan demonstrasi laiknya komoditas yang dapat diperdagangkan. Demonstrasi tak ubahnya senjata yang dapat diperjualbelikan, dan atas nama demokrasi memiliki keabsahan dalam pengaplikasiannya. Sekalipun dalam prakteknya seringkali menginjak-injak nilai-nilai demokrasi itu sendiri.
Di satu sisi, hal ini menggembirakan bila demontrasi benar-benar menjadi saluran aspirasi bagi kelompok yang tidak tertampung aspirasinya dalam sistem kenegaraan dan pemerintahan di negeri ini. Di sini demonstrasi bisa menjadi alternatif ketika saluran yang dialogis menghadapi kebuntuan. Namun, dalam konteks demokrasi, nilai-nilai demokrasi tetap harus dijunjung tinggi. Sikap anarkis yang mewarnai demontrasi akan mencederai demokrasi itu sendiri.
Di sisi lain, muncul keprihatinan ketika demonstrasi dianggap sekadar alat untuk memaksakan kehendak dan kepentingan pribadi yang mengatasnamakan “rakyat”. Hal ini tidak terlepas dari adanya kesan bahwa demonstrasi masih dianggap sebagai alat efektif untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan untuk “menekan dan memaksa” pihak lain melalui anarkismenya. Dalam konteks ini, demonstrasi tak ubahnya sebagai premanisme dalam “package” berlabel demokrasi. Tak mengherankan bila demontrasi benar-benar menjadi demons.
Tentang Demonstrasi Anarkis dan Media Massa
Disadari atau tidak, media massa memiliki andil yang signifikan dalam peningkatan anarkisme sebuah demonstrasi. Munculnya tayangan demonstrasi anarkis pada tayangan TV dan media pada umumnya telah memunculkan adanya kesadaran akan publisitas. Sebuah demonstrasi menjadi bernilai tinggi ketika menghasilkan publisitas di media berskala nasional. Tayangan berskala nasional menjadikan sebuah demonstrasi memiliki efektifitasnya. Di sinilah kepentingan penggagas demonstrasi dengan kebutuhan liputan dan tayangan media menemukan titik singgung.
Menyimak dari sisi kebutuhan media, sebuah demonstrasi memiliki nilai jurnalistik yang tinggi ketika mampu memenuhi kriteria layak berita [newsworthy]. Dari sisi prominence, media akan mengangkat berita demonstrasi bila diikuti oleh “orang-orang penting” atau demonstrasi berhadapan dengan “orang penting”. Dari sisi significance, sebuah demonstrasi memiliki nilai tinggi bila diikuti oleh orang dalam skala besar atawa dilangsungkan dengan cara-cara yang luar biasa, termasuk di dalamnya kekerasan. Semakin keras dan anarkis sebuah peristiwa, semakin mudah untuk menembus filter redaksi.
******************