Tentang Puisi dan TV

Posted on January 24, 2009. Filed under: Uncategorized | Tags: , , , , , , , |

Menyimak tontonan inagurasi Barack Obama melalui sejumlah stasiun TV nasional yang menyiarkannya secara langsung, terasa sekali demam Obama mewabah di pertelevisian nasional. Dalam ranah jurnalistik, Obama merupakan fenomena dengan nilai magnitude luar biasa. Di samping itu, bagi bangsa ini, “anak menteng” memiliki proximity psikologis yang relatif dekat. Maka, tidak mengherankan bila sebagian besar stasiun TV nasional yang siaran nasional (bukan TV lokal), menayangkannya. Upacara pelatikan Obama menjadi ranah persaingan program TV.

Dengan cara primitif, tentangblog mencoba mengamati satu per satu kemasan masing-masing stasiun dengan bermain remot dan memanfaatkan fasilitas multi gambar di layar TV. Mungkin ini tidak akurat untuk ukuran sebuah penelitian, namun untuk menyimak trend yang muncul di layar kaca dirasa cukup.

Tentang Yang Tertayang
Secara umum, gambar yang tertayang sama. Hal yang membedakan adalah paket diskusi yang ditawarkan masing-masing stasiun TV.  Hal ini dapat disimak dari komposisi komentator yang ditampilkan, yakni para analis yang ahli di bidangnya masing-masing (terutama politik dan ekonomi). Melalui analisis dan diskusi stasiun TV mencoba membangun bingkai (frame) dan wacana. Presenter yang ditugaskan mengawal acara pun tidak kalah hebatnya. Pendek kata, semuanya hebat ketika membahas implikasi politik dan ekonomi kehadiran Obama dalam percaturan politik global.

Dari pengamatan tentangblog, ada dua puncak acara yang dianggap penting bagi stasiun TV untuk disiarkan, yakni [1] upacara pengambilan sumpah, dan [2] pidato kepresidenan Obama yang pertama kali. Sekalipun penayangan dilakukan jauh lebih awal dari dua acara utama tersebut, namun masih terasa sebagai kembang-kembang pemanis yang dengan mudahnya dicampakkan begitu saja.

Tentang Musik, Puisi dan Obama
Rangkaian mata acara yang dipaket di dalam inagurasi merupakan upaya untuk menampilkan sisi manusiawi dari seorang Obama. Munculnya Aretha Franklin, Yo-Yo Ma dengan orkes multi rasnya, dan Elizabeth Alexander dengan puisinya merupakan paket yang semestinya dipandang sebagai satu kesatuan. Inilah sisi-sisi lain dari Obama yang tidak nampak di permukaan sebagai sosok dan pribadi yang multidimensi.

Dari keseluruhan mata acara, satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa dunia politik yang sering harus dikelola dengan dahi berkerut membutuhkan energi positif dan sentuhan-sentuhan halus nilai-nilai estetika dunia seni. Pelantikan orang nomor satu di sebuah bangsa merupakan salah satu puncak ritual di dalam dunia politik yang sakral, ternyata tidak hilang kesakralannya dengan munculnya musik dan puisi. Lirik lagu yang dibawakan Aretha Franklin dan puisi Elizabeth Alexander seakan memberikan bisikan halus dan menyiratkan bahwa politik pun masih butuh hati nurani. Politik juga butuh estetika, di samping etika. Pendek kata, bermain politik juga harus cantik.

Celakanya, media massa [baca: TV] di negeri ini sepertinya tidak menangkap hal tersebut. Eforia demokratisasi tidak dipahami sebagai upaya untuk melakukan pembelajaran demokrasi, yang etis dan estetis. Media lebih asyik dengan dunianya sendiri sesuai dengan platform yang dibangunnya sendiri. Simak saja acara debat-debat di stasiun TV di negeri ini. Sebagai pembelajaran perbedaan pendapat memang OK. Namun pada tataran teknis menyuarakan perbedaan pendapat, masih sangat sangat jauh. Dalam mengemas acara semacam ini, satu hal yang dilupakan oleh media TV, kesantunan di dalam sebuah forum. Yang kemudian terjadi bukan lagi debat, namun sebuah demontrasi yang diusung ke dalam studio. Mungkin kemasan sarat konflik ini merupakan cara efektif untuk mengadu nasib meraih pundi-pundi yang berceceran dalam ritual politik pemilu. Namun tidak memberikan nilai tambah yang positif sebuah pembelajaran politik bagi khalayak.

Kembali ke persoalan pelantikan Obama. Beruntung bagi Aretha Franklin dan Yo-Yo Ma yang tampil sebelum pengambilan sumpah Obama, sehingga tertayang secara utuh di layar kaca. Sementara Elizabeth Alexander tidak terlalu beruntung ketika membacakan puisinya setelah sumpah dan pidato Obama. Di sini nampak bahwa stasiun TV hanya memandang sebelah mata sebuah puisi yang terbacakan. Esensi dari pembacaan puisi bukanlah pada gambar yang tertayang, namun yang disuarakan pembaca. Ironisnya, gambar Elizabeth Alexander tertayang namun yang disuarakan tidak terdengar. Ada stasiun TV yang sekadar menempatkan gambar Elizabeth Alexander sebagai background diskusi para analis. Yang lebih lucu lagi, Elizabeth Alexander yang sedang membaca puisi dan khalayak yang serius mendengarkan tertayang penuh di layar kaca tapi di-voice over dengan analisis presenter tentang isi pidato Obama.

Tentang Apalah Arti Sebait Puisi?
Akhirnya, pertanyaan di atas yang kemudian muncul. Lebih tepatnya, bagaimana stasiun TV memaknai sebait puisi. Dari yang tertayang pada acara pelantikan Obama, nampak bahwa puisi tidak mendapat tempat yang layak. Padahal bila disimak dengan seksama, lahirnya puisi dilandasi oleh sebuah pemikiran yang sarat dengan politik, strategi dan taktik dalam berbahasa. Dengan kata lain, puisi merupakan hasil karya kreatif dalam pemilihan kata yang memerlukan akurasi dan presisi. Hal ini sejalan dengan yang terjadi di dalam dunia media massa, yang sangat dibatasi wilayah luas halaman dan durasi tayang. Anehnya, pawa awak TV tidak menempatkan hal ini sebagai sebuah pembelajaran.

*************

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...