Tentang Hey, Jangan “Ngobrol” Sendiri…

Posted on September 1, 2008. Filed under: Uncategorized | Tags: , , , , |

Terjadi lagi, SBY marah di dalam sebuah forum gara-gara kedapatan peserta yang mengobrol ketika SBY memberikan pengarahan. Forum ini bukan sembarangan, Sidang Kabinet! Hal seperti ini sebelumnya pernah terjadi. Ketika SBY sedang memberikan pidato pengarahan, salah seorang peserta mengantuk. Apakah kemudian, mengobrol sama dengan mengantuk? Jelas berbeda. Hanya saja efeknya sama, baik yang mengantuk ataupun ngobrol dapat dipastikan tidak memfokuskan perhatiannya pada permasalahan yang sedang dibahas. Dalam berbagai kondisi, mengantuk mungkin lebih dapat dimaklumi daripada ngobrol di dalam forum. Munculnya rasa kantuk terkadang tidak kenal kompromi, sedangkan semangat untuk ngobrol harus dilawan kuat-kuat dengan menahan diri.

Tentang Budaya Mendengarkan
Kasus ngobrol dan ngantuk pada sebuah forum sebenarnya bisa dijumpai dimana saja, dan dapat menjangkiti siapa saja. Namun, ketika peristiwa ini menyangkut figur tertentu, bisa menjadi peristiwa yang menarik. Apalagi kalau terkait dengan peristiwa tertentu, seperti Sidang Kabinet. Bagi media, peristiwa seperti itu jelas menjadi layak untuk disantap.

Penonton TV di negeri tercinta ini seringkali harus menahan kejengkelannya ketika melihat tingkah para wakil rakyat yang sedang bersidang di Gedung Bulus. Apalagi dalam persidangan maraton sebagaimana di dalam Sidang Umum. Seringkali, TV menyiarkan ulah para wakil rakyat yang sedang sibuk dengan dirinya sendiri di dalam sebuah persidangan. Baca koran, tertidur, “bermain” hape, merupakan pemandangan yang seringkali dianggap lumrah. Bahkan, tidak jarang pula ditampilkan gambar kursi-kursi yang tidak berpenghuni. Celakanya, para wakil rakyat sendiri seperti tidak menyadari bahwa kamera TV senantiasa siaga menangkap hal-hal menarik seperti itu.

Human interest? Mungkin saja, kalau kemunculan tayangan tersebut didasari dorongan ingin menunjukkan bahwa wakil rakyat juga manusia, yang punya letih, lelah, lesu dan lemah setelah memikirkan negara dan bangsa. Namun, tidak dapat dihindari juga munculnya pemikiran bahwa tayangan tersebut merupakan wacana satir tentang kinerja para anggota dewan terhormat yang telah dipilih rakyat. Masyarakat akhirnya hanya bisa mengomel dalam hati, inikah wakilku?

Persoalannya kemudian, siapa yang harus menegur para wakil rakyat, ketika rakyat yang memberikan keterwakilannya tidak mungkin lagi mencabut kuasa tersebut [?]

Dalam kaitan dengan SBY, kasusnya berbeda dengan cerita tentang para anggota dewan terhormat. Sidang kabinet merupakan bagian dari lembaga koordinasi yang digunakan presiden untuk mengambil kebijakan. Di sini, berbagai persoalan negara dan bangsa dibahas untuk pengambilan kebijakan. Ngobrol di dalam sidang seperti itu jelas bukanlah tindakan terpuji. Sebagai pimpinan, SBY sudah sepantasnya memberikan teguran keras pada bawahan yang tidak dapat menempatkan diri. Bayangin aja, kalau pada atasannya saja berlaku seperti itu, bagaimana dengan masyarakat? Bagaimana pula para pejabat seperti ini dapat mendengarkan “jeritan rakyat” kalau kepada pemimpinnya sendiri sudah enggan untuk mendengarkan?

Berangkat dari peristiwa ini, setidaknya ada pelajaran berharga yang diberikan SBY terkait dengan persoalan komunikasi, yakni mendengarkan. Dalam berbagai hal, pelajaran komunikasi biasanya lebih diarahkan pada teknik menyampaikan gagasan atawa berekspresi. Bahkan kursus dan pelatihan di bidang ini termasuk yang laris manis. Apalagi yang diselenggarakan oleh artis. Pendek kata, banyak yang ingin memiliki kehandalan di dalam menyampaikan gagasan. Sebaliknya, adakah yang ingin menjadi pendengar yang baik?

Mendengarkan, sebagai sisi lain dari etiket dan praksis dalam berkomunikasi, termasuk yang jarang sekali diperhatikan. Dari Gedung Bulus penonton TV sering disuguhi hujan interupsi, yang sepertinya menunjukkan bahwa para wakil rakyat pun tidak mampu menahan diri. Atau…..karena ada TV, mereka ingin menampilkan diri sebagai sosok yang berarti? Sosok yang ingin didengarkan, namun tidak mau bersabar untuk mendengarkan pihak lain.

Dalam sebuah forum ataupun proses komunikasi yang dialogis, berbicara dan mendengarkan adalah dua sisi mata uang yang harus dijalankan bergantian. Ada saat untuk berbicara, ada pula saat untuk mendengarkan. Di sinilah masing-masing pihak harus dapat saling menahan diri dan memiliki kesadaran atas posisi dan peran. So…. Belajarlah menjadi pendengar yang baik.

****************************

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...