Tentang Emas Untuk Kemerdekaan
Akhirnya, sekeping medali emas olimpiade teraih juga melalui raket pasangan Markis Kido dan Hendra Setiawan yang membukukan kemenangan atas pasangan ganda China dengan rubber set. Peristiwa 16 Agustus 2008 ini menjadi menarik dan bermakna ketika usaha untuk meraih emas berlangsung saat masyarakat sedang ”sibuk” menyambut HUT ke-63 negeri tercinta ini. Maka, tidaklah mengherankan kalau tayangan langsung TVRI pada peristiwa tersebut nyaris terlewatkan begitu saja. Dari pengamatan tentangblog, hanya TVRI-lah yang menyiarkan acara ini secara nasional.
Bagi tentangblog, peristiwa ”Emas Untuk Kemerdekaan” ini begitu membanggakan sekaligus mengharukan. Membanggakan karena supremasi bulu tangkis ”sebagian” masih berada di tangan atlet negeri ini. Membanggakan karena atlet negeri ini masih mampu unjuk gigi pada ajang olahraga dunia yang sangat bergengsi. Membanggakan, karena masih ada bintang yang bercahaya terang di langit yang senantiasa hitam pekat menyelimuti bumi pertiwi ini.
Di sisi lain, muncul keharuan ketika keping emas tersebut diraih saat negeri ini belum bisa terlepas dari berbagai persoalan yang datang nyaris silih berganti. Termasuk di dalamnya persoalan yang menyelimuti induk-induk organisasi keolahragaan. Mengharukan, ketika masih ada yang rela berjuang demi nama bangsa ketika persoalan korupsi yang sangat menyakitkan hati masih saja bersemi.
Lebih mengharukan lagi, ketika perjuangan para duta-duta bangsa ini tidak mendapatkan porsi yang layak dari pertelevisian di negeri ini yang lebih banyak berpikir rejeki. Lho kok sampai televisi?
Terus terang saja, bagi tentangblog, hanya televisilah yang paling ideal untuk menyampaikan peristiwa ini. Teknologi yang dimiliki dunia televisi dengan mudahnya mengantarkan peristiwa tersebut langsung ke ruang keluarga. Simak saja anak-anak kecil yang sering meneriakkan ”racun”, mengikuti Changcutters. Artinya, hal-hal yang muncul di layar TV dengan mudahnya nancep dibenak anak-anak. Analoginya, tidakkah ajang yang dipercaya efektif dalam membangun sportifitas dapat disumbangkan televisi untuk memberikan makna yang lebih berarti, ketimbang sinetron yang semakin membekukan hati.
Ironisnya, televisi di negeri ini sepertinya tidak bergeming ketika membahas siaran langsung peristiwa olahraga dunia catur warsa ini. Bahkan upacara pembukaan event sebesar olimpiade pun terlewat begitu saja, dan hanya muncul di berita. Ga’ salah kalau muncul anggapan bahwa televisi di negeri ini tidak mengagendakan peristiwa ini dalam acara.
Tentang Kriteria Layak Tayang
Liputan televisi nasional tentang olimpiade menunjukkan adanya anggapan dari dunia pertelevisian bahwa peristiwa ini tidak memiliki nilai layak jual. Animo pertelevisian nasional terhadap tayangan peristiwa di olimpiade tidak sebanding dengan semangat untuk mendapatkan hak siar Liga Inggris, Piala Eropa atawa Piala Dunia di ajang sepakbola. Pendek kata, olimpiade tidak memenuhi kriteria layak tayang karena tidak akan mendatangkan sponsor.
Kalau inti persoalannya hanyalah mengais rejeki, maka diskusi hanya cukup sampai di sini. Persoalannya kemudian, tidak adakah sedikit kerendahan hati dari para pengelola pertelevisian nasional untuk menghargai perjuangan para atlit? Tidak adakah semangat kebangsaan untuk memberikan apresiasi pada pencapaian para atlit ketika olahraga di negeri ini dirundung miskin prestasi? Tidak adakah kegalauan untuk berhenti meracuni bangsa ini dengan sinetron-sinetron yang semakin jauh dari makna seni?
Terlepas dari persoalan nasionalisme atawa tidak, tayangan olimpiade justru merupakan penyampaian nilai-nilai universal tentang pencapaian prestasi yang tidak dapat dilepaskan dari usaha keras dan perjuangan. Inilah nilai-nilai yang seharusnya menjadi virus yang ditularkan oleh televisi dalam kaitan dengan perjuangan.
Alih-alih membicarakan perjuangan, untuk menyiarkan pengibaran Sang Saka pada 17 Agustus banyak di antaranya yang hanya menayangkan atas azas kepantasan. Yaah, sebatas pengibaran bendera saja. Usai bendera dikibarkan, buru-buru diisi dengan acara lainnya. Salah? Ngga sih, cuma saja –bagi tentangblog- ini sangat keterlaluan. Kalau berpijaknya hanyalah regulasi, masih banyak hal yang belum diregulasi di negeri tercinta ini. Di sinilah pertimbangan moral, etika dan sebangsanya diperlukan. Nah, melalui tulisan ini tentangblog salut setinggi-tingginya untuk Indosiar, SCTV, dan Metro TV dan tentunya TVRI yang secara penuh telah menyiarkan Pengibaran Sang Saka Merah Putih.
*****************