Tentang Indonesian Idol [27 Juni 2008]
Pentas Spektakuler Indonesian Idol 2008 masih menampilkan 6 kontestan, Aji, Aris, Beto, Dyna, Gisel dan Patudu. Mengusung tema Idol Untuk Sesama, Pentas semalam dapat dimaknai sebagai visi sosial kontestan Indonesian Idol. Pentas kali ini juga diwarnai dengan tampilnya Jessica Mauboy, runner up Australian Idol 2006, yang kelihatan sangat matang di pentas.
Tampil sebagai pembuka sesi kontes, Dyna membawakan lagu “Tak Seindah Biasa” dari Pongky Jikustik yang dipopulerkan Siti Nurhaliza. Didampingi 2 anak laki-perempuan, penampilan Dyna terasa tidak maksimal. Tentangblog menilai tampilan Dyna sangat dipengaruhi oleh 2 anak pendamping tersebut (terutama anak perempuan), sehingga konsentrasi tidak sepenuhnya ke lagu. Ga’ salah kalau Titi DJ menilai “Siti Nurhaliza Wannabe” untuk Dyna, walaupun sudah ada upaya untuk meng-improve lagu tersebut. Sebagai pembuka acara kontes, pilihan terhadap lagu tersebut cukup bisa menghidupkan suasana. Akan tetapi Dyna tidak berhasil dengan baik dalam membawakannya. Kritik 3 juri pun akhirnya menghujani Dyna.
Aji tampil pada urutan kedua membawakan lagu “Jalinan Kasih” dari Indra Lesmana yang biasa dinyanyikan Mike Idol. Tidak ada kejutan yang seperti biasa ditampilkan Aji pada sisi stage act. Penampilan kali ini, stage act Aji memilih konsep minimalis hanya memasang fingerspelling interpreter sebagai bagian menerjemahkan tema Idol Untuk Sesama. Konsekuensinya, Aji harus tampil maksimal dalam bernyanyi. Kekuatan karakter yang sudah terbentuk di dalam diri Aji menjadikannya lepas sama sekali dari Mike. Padahal menurut Indra Lesmana, lagu tersebut dibuat khusus untuk karakter Mike.
Menyanyikan “Arti Sahabat” dari Nidji, Beto merombak total style lagu ini ke dalam pop a’la Beto. Dalam style pop, lagu ini kehilangan aksentuasi dan semangat membara yang ditanamkan Nidji. Dari sisi penampilan fisik, Beto sudah mulai konsisten untuk menanggalkan jadulnya. Sementara dari sisi bernyanyi, nampak bahwa Nyong Ambon ini memiliki kelemahan dalam hal “vocabulary” di bidang musik. Beto masih harus sering mendengar dan menonton bagaimana tampilan musisi dan penyanyi untuk memperkaya kasanah bernyanyi. Anang dan Indra mengritik habis, sedangkan Titi DJ berbeda, pilihan lagu yang sesuai tema dan penjiwaan terhadap lagu masih sejalan.
Gisel tampil dengan kejutan ketika membawakan “Masa Kecilku” dari Dian Pramana Putra. Lagu sangat sesuai dengan tema, dan Gisel berhasil menjiwainya. Pilihan Gisel cukup berani dan mengejutkan karena lagu tersebut bukanlah lagu yang saat ini banyak dikenal penonton Idol di usia remaja. Sementara tentangblog berasumsi bahwa penonton Idol didominasi remaja. Pilihan ini nyaris sama dengan Aji ketika membawakan “Galih dan Ratna”, yang dapat menggaet penonton nostalgik, yang notabene ga’ dipusingin oleh pulsa sms premium.
Pilihan Aris dengan “Sahabat” dari Peterpan terasa pas pada penampilan semalam. Dari sisi tema, lagu ini terasa pas banget. Dari sisi penampilan, Aris mulai berfikir stage act dengan menampilkan 2 orang sahabatnya yang bermain gitar akustik pada intro lagu. Keberadaan 2 sahabat tersebut menjadi sangat strategis dan seperti menempatkan Aris pada “habitatnya”.
Pentas Spektakuler ditutup penampilan Patudu yang membawakan “Satu” dari Superglad, lagu tema untuk kampanye HIV AIDS. Pada penampilan ini, Patudu didukung paduan suara sebagai backing vocal, dan terasa mengena. Patudu yang biasa “menjual” keimutannya, semalam nampak lebih mature.
Tentang Beto dan Wacana Internasional
Sekali lagi, kemauan juri tidak sejalan dengan voters. Dari sesi prediksi, ketiga juri sepakat memilih Dyna sebagai kontestan yang paling lemah dan berpotensi besar untuk keluar dari orbit Indonesian Idol. Nampaknya, voters punya mau yang berbeda, Dyna, Patudu dan Gisel merupakan kontestan dengan nilai atas. Sedangkan Aji, Aris dan Beto berada pada kelompok 3 bawah, kontestan yang tidak aman. Akhirnya, voters memilih Beto yang harus terhenti langkahnya untuk melaju di Indonesian Idol.
Wacana tentang penyanyi bertaraf internasional sudah mulai muncul dari juri. Ini sebuah peringatan dini (early warning system) yang harus menjadi “pekerjaan rumah” bagi kontestan dan voters. Bagi kontestan, pentas Idol tidak hanya berhenti ketika “Sang Idola” telah terpilih. Masih ada anak tangga panjang yang harus ditapaki kontestan Idol untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, World Idol. Dengan kata lain, kerja keras masih harus ditempuh kontestan untuk menyiapkan langkah lanjut.
Sementara dari sisi voters, peringatan dini dari juri dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membuat pilihan-pilihan yang lebih rasional, bukan emosional. Nah, ini masalahnya. Tentangblog meyakini bahwa faktor-faktor primordial masih kental nuansanya dalam proses memilih yang dilakukan oleh voters. Unsur-unsur demografis kontestan seringkali menumpuhkan solidaritas kedaerahan yang menjadikan proses memilih tidak lagi atas dasar kapasitas kontestan. Tidak dapat dimungkiri, bahwa keberhasilan Idol menumbuhkan banyak harapan pada daerah asal kontestan, sehingga penggalangan suara di tingkat daerahpun seringkali terjadi.
Tentang Suara (sound) dan Gumam Aji
Tayangan pentas Spektakuler semalam terasa ada yang berbeda dalam hal tata suara. Musik garapan Andi Rianto yang keren seringkali justru mengganggu ketika lebih dominan dibanding suara kontestan. Suara penyanyi yang seharusnya agak diperkuat oleh penata suara, semalam sering tergilas oleh musik pengiring. Mungkin hal ini tidak terlalu dirasakan oleh penonton yang berada di dalam Balai Sarbini. Namun dari tampilan di layar kaca nampak adanya suara kontestan sering kalah bersaing dengan kuatnya suara musik pengiring. Hanya suara Aris yang sepertinya mampu menandingi kuatnya iringan musik.
Salah satu kelemahan Aji dalam bernyanyi adalah seringnya bergumam. Kritik dari juri seringkali muncul pada sisi ini. Sekadar usulan saja, bagaimana kalau Aji melepas “kawat gigi” (maaf, tentangblog ga’ ngerti istilah yang benar untuk itu). Betul, pemasangan kawat gigi salah satunya dapat memperbaiki lafal dalam bicara, namun setelah proses tersebut berlalu. Ketika kawat gigi masih terpasang, jelas sekali kalau mengganggu dalam pelafalan. Pengalaman tentangblog berinteraksi dengan pengguna kawat gigi adalah adanya perubahan suara yang tidak “penuh”. Tentu saja ini butuh penyesuaian, mengingat seberapa lama yang bersangkutan menggunakan peralatan tersebut. Nah, yang tidak bisa dihindari, Aji harus berlatih keras untuk pelafalan.
Sementara tentang nafas cekak Aris yang seringkali mengganggu, semalam tidak muncul. Mungkin Aris telah memperbaikinya, namun yang perlu disimak juga, lagu “Sahabat” yang biasa dinyanyikan Ariel Peterpan (suaranya juga cekak) tidak menuntut manajemen pernafasan yang lebih rumit.
***************