Tentang Banyugeni, Blue Energy dan Blue Gold
Bila dibaca selintas, judul sampul BusinessWeek minggu ini seperti terkait dengan kasus Banyugeni dan Blue Energy yang masih misteri. Is Water New Oil? Demikian judul laporan sampul (cover story) Susan Berfield dari BusinessWeek tentang T. Boone Pickens, yang menyatakan bahwa air akan menjadi minyak. Bahkan Pickens berani bertaruh 100 juta dolar bahwa pemikiran dia benar.
Misteri Banyugeni mulai melebar dan semakin jauh dari titik terang. Bahkan persoalan yang paling dasarpun belum terjawab, apakah Banyugeni identik dengan Blue Energy? Satu hal yang dapat menjadi titik pangkal menuju kejelasan, pihak UMY telah menghentikan proyek tersebut. Bahkan instalasi yang terpasang di Proyek Pembangkit Listrik Mandiri Jodhipati (PLMJ) untuk tenaga listrik berkekuatan besar sudah dibongkar. Kesimpulannya, PLMJ dan Banyugeni hanyalah isapan jempol. Inipun masih menyisakan pertanyaan, karena dalam pemberitaan sebelumnya pihak UMY sangat optimis. Bahkan telah mendaftarkan Banyugeni ke Ditjen HAKI Dephukham.
Banyugeni atau Hidro-Kerosin ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Tim peneliti dari Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) UMY. Tim yang terlibat penelitian sejak tahun 2007 adalah Drs Purwanto (konsultan ahli), Ir Bledug Kusuma Prasadja MT, Ir Tony Haryadi MT, Ir Lilik Utari MS, dan Dra Nike Triwahyuningsih.
Bahan bakar air atau sering disebut hydrofuel ini akan dipatenkan dengan merek BanyugeniTM. Menurut Rektor UMY, Dr Khoiruddin Bashori, merek Banyugeni sudah dipatenkan dan sudah didaftarkan di kantor Ditjen HAKI Depkum dan HAM dengan nomor 00.2008.004866. Sedang teknologinya saat ini masih dalam proses paten. (Lebih lanjut —>>>)
Dari kutipan di atas nampak bahwa “Proyek Banyugeni” sepertinya optimis. Dua pekan kemudian persoalannya jadi terbalik, bahwa penelitian ini dihentikan.
Tim Peneliti Banyugeni dari Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi menghentikan proyek banyugeni, bahan bakar berbasis air. Penghentian ini dilakukan setelah proyek yang ditawarkan Joko Suprapto cs itu dipastikan bohong-bohongan.
Hal itu diungkapkan Rektor UMY Dr H. Khoiruddin Bashori kepada wartawan di kantor PT Mentari Prima Karsa (MPK), salah satu badan usaha milik UMY, di Jl Pendidikan No 88, Ngestiharjo Kasihan Bantul, Jumat (13/6/2008). Turut hadir dalam pertemuan itu Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMY H Dasron Hamid MSc dan Dirut PT MPK Ir Riyam Indarto.
“Setelah dilakukan telaah teknis dan akademis, baik proyek Banyugeni maupun Pembangkit Listrik Mandiri Jodhipati, Senat UMY memutuskan penelitian Banyugeni tidak layak diteruskan,” kata Khoiruddin. (Lebih lanjut —>>>)
Dari dua kutipan berita tersebut jelas memunculkan “sikap kritis” tentang hal yang terjadi. Pertanyaan besar yang kemudian muncul, benarkah “telaah teknis dan akademis” tidak dijalankan ketika menerima proyek tersebut?
Tentang Panik dan Popularitas
Persoalan BBM yang seringkali memunculkan instabilitas di berbagai sektor, dan hal ini sangat disadari oleh seluruh komponen masyarakat. Dari pemberitaan media massa, gagasan-gagasan penggunaan energi alternatif seringkali mencuat bersamaan dengan pemberitaan kenaikan harga BBM. Sama halnya dengan gencarnya kampanye bahan pangan alternatif (baca: non-beras) yang menyertai berita gagal panen atawa impor beras karena cadangan pangan nasional tidak memenuhi kuota. Panik dan popularitas yang kemudian menyatu dalam isu.
Panik kenaikan harga BBM muncul dari lini paling bawah hingga lini atas. Di lini bawah terkait dengan “ketidakcukupan” penghasilan, sedang di lini atas terkait dengan pengambilan kebijakan yang aman. Sedangkan di lini tengah, muncul pihak-pihak yang berkalkulasi dan spekulasi. Lengkaplah sudah panik berjamaah tersebut. Dalam kondisi demikian, munculnya konsep “Ratu Adil” sebagai pembawa keajaiban dengan mudah dapat diterima. Implikasinya jelas, hal-hal yang seharusnya dijawab dengan rasionalitas nalar menjadi terlupakan.
Masih segar di ingatan tentangblog kasus stasiun TV di negeri ini yang dilarang menyiarkan acara-acara mistis. Salah satu alasannya adalah potensi acara-acara tersebut mematikan daya nalar. Bahkan yang relatif baru, tayangan Iklan SMS premium Ki Joko Bodo dan sejenisnya sempat digoyang. Walaupun hingga kini iklan-iklan tersebut masih nongol, bahkan bertambah. Tekanan-tekanan tersebut sepertinya ingin menunjukkan bahwa rasionalitas magis yang tradisional tidak sesuai lagi dengan rasionalitas modern.
Terlepas dari persoalan setuju dan tidak setuju pada tayangan TV di atas, pertanyaannya adalah dimanakah daya nalar itu ketika menyimak kasus PLMJ dengan Banyugeni-nya? Apalagi bila dikaitkan posisi institusi tersebut yang dibangun oleh institusi “pusat nalar”. Kalau institusi “pusat nalar” saja merasa “terisap jempolnya”, bagaimana dengan awam? Dari 2 kutipan di atas nampak jelas bahwa Proyek Banyugeni oleh PLMJ sepertinya melupakan sifat dasar ilmu pengetahuan yang dibangun atas sikap skeptik dan dapat diverifikasi.
Tentang Blue Gold
Cerita tentang Blue Gold memang tidak terjadi di negeri tercinta ini. Pun ceritanya bukan tentang “mengubah air menjadi minyak”. T. Boone Pickens adalah ahli geologi kelahiran Oklahoma, pemilik area peternakan (ranch) Mesa Vista di Roberts County, sebuah kawasan di Negara bagian Texas. Berpenduduk kecil (kurang dari 900 jiwa), Roberts County merupakan kawasan peternakan dan pertanian yang subur. Dengan kandungan air tanah yang masih melimpah di kawasan tersebut, Pickens mengembangkan bisnis air. Di sinilah konsep Blue Gold digunakan untuk memosisikan air sebagai salah kebutuhan primer, yang sangat potensial menjadi komoditas. Melihat pertumbuhan industri dan pengelolaan air tanah, Pickens bermimpi bahwa di masa datang harga air bisa lebih mahal dari minyak. Tentunya hal ini bukan impian kosong kalau melihat bagaimana penggunaan dan pengelolaan air yang seringkali sembrono. Cerita tentang Pickens mengingatkan tentangblog pada trilogi Mad Max yang dibintangi Mel Gibson. Film futuristik ini menggambarkan sulitnya air di era pasca perang nuklir yang melanda jagad ini.
Lalu, apakah harus perang nuklir lebih dulu untuk membuktikan taruhan Pickens? Tanpa perang nuklir ke depan krisis air tetap berpotensi menjadi ancaman. Gagasan tentang pemanasan global dan gerakan serba hijau sebenarnya merupakan peringatan adanya keterbatasan sumberdaya alam, termasuk air.
So, antara Banyugeni dan Blue Energy ternyata ga’ nyambung dengan Blue Gold. Cuma, Blue Gold sepertinya lebih mudah diterima nalar. Nah, siapa mau bertaruh dengan Pickens?
Catatan:
Pos tulisan ini agak terlambat. Perkembangan baru tentang kasus ini mulai terkuak dengan gagalnya penemu bahan bakar berbahan air membuktikan temuannya (bisa dibaca di sini) dan Rektor UMY mengundurkan diri (bisa dibaca di sini)