Tentang Indonesian Idol [13 Juni 2008]
Siapa percaya angka 13 keramat? Iklan perusahaan penyedia layanan seluler yang tahun ini merayakan ulangtahun ke-13, mencoba menepis mitos keramat tersebut. Demikian halnya dengan pegawai negeri sipil (PNS), angka 13 menjadi dambaan. Seperti yang saat ini terjadi, PNS di negeri ini sedang mendapat kucuran gaji ke-13. Bagi Ibeth Idol cerita cerita tentang angka 13 bisa jadi lain. Apalagi bila dikaitkan dengan hari Jum’at. Dalam Pentas Spektakuler tanggal keramat semalam (tanggal 13 Juni, bertepatan hari Jumat malam), Ibeth harus keluar dari orbit Indonesian Idol.
Dengan tema soundtrack, kontestan Indonesian Idol menginterpretasi lagu-lagu tema dan ilustrasi film. Pilihan Ibeth pun jatuh pada lagu “Perempuan Ini”, salah satu lagu dari OST sebuah film “keramat” Tusuk Jelangkung. Maka, lengkaplah sudah “kekeramatan” tersebut. Bahkan bantuan “simpati” air mata pada tayangan layar lebar sepertinya tidak cukup membantu. Akhirnya, satu dari 3 kontestan cantik berlesung pipit di Indonesian Idol 2008 harus tersingkir.
Cerita tentang kekeramatan bias jadi menarik di negeri tercinta ini. Perkara yang sebenarnya rumit pun ketika ketemu dengan kekeramatan menjadi sederhana penyelesaiannya. Beberapa waktu lalu persoalan SMS santet sempat merebak, dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Persoalannya sederhana, ngapain santet harus pakai SMS? Toh teknologi santet “harusnya” dapat berlangsung tanpa TIK? Jawabnya sederhana, paranormal santetnya ternyata punya warung ponsel. Membawa persoalan TIK yang sangat “full of nalar” ke dalam perkara supranatural menjadi sangat-sangat kontradiktif dan kontraproduktif. Sama halnya dengan cerita tentang Banyugeni.
Tentang Desain “Pampasan Perang“
Bagi tentangblog, penampilan kontestan Idol pada spektakuler 13 Juni tidak ada yang betul-betul “nendang”. Dari sisi teknik menyanyi, tidak ada yang istimewa. Namun sebagai hiburan masih cukup untuk membantu mengalihkan agenda tentang “telpon para jaksa” yang sangat menyakitkan nurani. Satu lagi, nonton Indonesia Idol menjadi modal ga’ ngantuk menikmati pertandingan Italia vs Rumania. Ah….akhir pekan yang sempurna untuk tetap ngendon di kamar setelah mengurus kelengkapan logistik tentunya.
Kalau tidak ada yang istimewa, lalu apa yang menarik? Nah, tentangblog pada pos ini akan mengupas yang tidak menarik dari Idol pada persoalan “kostum panggung” untuk 3 cantik berlesung pipit yang masih tersisa. Sebelumnya mohon maaf kalau tentangblog salah. Tentangblog bukanlah desainer, bahkan ga’ paham tentang gunting-menggunting kain. Apalagi menjahitnya. Tentangblog juga tidak punya pondasi seni tata panggung. Namun kalau sekadar membedakan guntingan baju yang sama nada dan nuansanya, rasanya tidak terlalu sulit.
Dari penampilan 3 kontestan (perempuan), hanya Dyna yang memperoleh jatah busana panggung mendekati tema lagu yang dibawakannya. Untuk Gisel dan Ibeth, nampaknya tidak begitu beruntung. Busana kedua kontestan tersebut terasa ga’ nge-blend dengan lagu.
Dalam pandangan tentangblog, busana untuk kontestan perempuan Indonesian Idol sering mengganggu. Pengulangan model yang itu-itu saja terasa “maksa”. Model atasan yang melebar lepas di bawah dipadukan dengan pants seperti hipster menjadi template yang hanya diberi tekanan pada bahan, motif dan ornamen. Nampaknya, ini trend yang ingin dibangun perancang. Model seperti itu tidak hanya sekali pementasan. Apakah ini merupakan skenario membangun trend “model AFI (Akademi Fantasi Indosiar)” yang dulu sempat memunculkan “Celana AFI”?
Dalam catatan tentangblog, hanya pada tema “In Action” kebebasan untuk kontestan perempuan mendapat porsi yang lebih leluasa. Selebihnya, kostum panggung kontestan perempuan seperti “pampasan perang”. Seragam dalam mode dan beragam dalam warna.
Betul, ini ajang menyanyi dan bukan fashion show. Akan tetapi menyanyi di TV berbeda dengan menyanyi di radio. Di samping teknis menyanyi, kontestan Idol harus melengkapi diri dengan kemampuan menerjemahkan pesan dalam lagu dengan busana panggungnya. Kalau memakai kalimat populer McLuhan “medium is the message”, busana pun sebagai media adalah pesan. Persoalannya adalah pesan siapa? Di sinilah busana dapat menjadi titik temu antara menerjemahkan pesan lagu, pesan penyanyi dan sekaligus pesan perancang. Dari pementasan spektakuler, penggunaan busana panggung yang seragam nampak terlalu “maksa” ketika lagu yang dibawakan memiliki pesan yang beragam. Kalau kemudian yang nampak adalah guntingan yang serupa tapi tak sama dan diulang-ulang, keinginan desainer untuk branding dan membangun trend nampak lebih dominan ketimbang upaya menerjemahkan lagu ke dalam busana.
Namun tentangblog tetap meyakini bahwa tersingkirnya Ibeth dari orbit Indonesian Idol bukan karena urusan busana. Bukan pula karena teknik menyanyinya tidak baik dan benar. Yang terjadi, voters (bukan penonton) tidak menghendaki lagi Ibeth tampil di spektakuler. Lebih jelasnya, hanya pemegang data statistik voting yang tahu.
Tentang Rap Jawa ala Aji
Aji Kribo nampaknya harus menanggung beban berat ketika pemunculannya selalu identik dengan “kejutan”. Hal ini sempat diungkapkan Indra Lesmana semalam, dengan jujur dia katakan bahwa ekspektasinya terhadap Aji mungkin terlalu tinggi. Nampaknya, Aji terperangkap di dalam stigma tersebut. Alhasil, beban “kejutan” tersebut akhirnya “memaksa” Aji untuk mencari faktor pembeda. Pada penampilan semalam, Aji membuka lagu dengan style rap berbahasa Jawa. Bagi tentangblog, dua hal yang perlu diperhatikan dari rap Jawa ala Aji. Yang pertama, Aji kelihatan ga’ biasa dengan rap sehingga kelihatan tergagap. Yang kedua, penggunaan bahasa Jawa terasa mengganggu nasionalitas Idol. Memang, membangun sentimen primordial sangat efektif melalui bahasa. Namun satu hal yang seharusnya diingat, Aji bukan lagi milik “orang Jawa”. Kalaupun pilihan terhadap rap harus diambil, ada baiknya kalau tetap berbahasa Indonesia. Untuk urusan rap berbahasa Jawa, sebagai orang Yogya Aji dapat berguru pada Geng Kobra.
******************