Tentang Indonesian Idol dan Pay per Society

Posted on June 10, 2008. Filed under: Tentang ICT | Tags: , , , , , , , , |

Kontes menyanyi yang mengandalkan penonton sebagai voters dalam konteks produksi siaran TV, “seakan” menempatkan penonton sebagai “raja”. Penonton diberi peluang berkuasa untuk menentukan komposisi menu yang ingin ditontonnya. Sementara stasiun TV menyediakan kontestan yang akan terpilih ataupun tersisih. Implikasinya, penontonlah yang menentukan nasib kelangsungan kontestan di atas pentas. Sudah barang tentu, tidak setiap penonton akan menggunakan peluang kuasa tersebut. Hanya penonton yang tergerak untuk menjadi voters yang mampu mengubah nasib peserta.

Persoalannya kemudian, berapa bagian dari penonton yang mengubah posisi menjadi voters? Data untuk ini jelas merupakan rahasia dapur yang tabu hukumnya untuk dibuka. Persoalannya lagi, apakah voters akan membuat menu racikan (memilih sejumlah kontestan untuk didukung) atawa untuk salah satu peserta semata? Pertanyaan semacam ini sebenarnya dapat dijawab dari data hasil line voting, cuma data tersebut (sekali lagi) termasuk rahasia dapur penyelenggara.

Dengan model vote dari penonton, kontes menyanyi seperti ini sangat potensial bagi munculnya bias. Artinya, faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan teknik bermusik dan bernyanyi terkadang justru menjadikan kontestan sebagai pemenang. Sekalipun juri seringkali mengingatkan bahwa acara tersebut adalah kontes menyanyi, namun juri adalah juri, yang tidak memiliki kontribusi langsung terhadap nasib peserta. Kecuali juri juga mengubah posisinya menjadi voters.

Nah, disini banyak pertanyaan yang kemudian dapat dimunculkan terkait dengan voters. Benarkah voters memilih karena faktor-faktor bermusik atawa bernyanyi yang dimiliki peserta? Apakah voters memiliki pengetahuan tentang bermusik dan bernyanyi? Faktor-faktor apa saja yang digunakan voters sebagai landasan untuk memilih? Apakah komentar juri dapat mempengaruhi proses pemilihan voters terhadap peserta? Apakah faktor-faktor primordial peserta mempengaruhi voters pada keputusan memilih?

Untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah mudah. Data hasil voting pun tidak dapat memberikan jawaban empirik. Jawaban atas pertanyaan tersebut hanya menjadi rahasia masing-masing voters semata, dan tetap menjadi misteri sepanjang tidak dipertanyakan dalam sebuah survei

Sejumlah pertanyaan di atas hanyalah segelintir persoalan yang harus dihadapi oleh kontestan. Artinya, untuk dapat melaju di jalur Idol, bukanlah sekadar piawai dalam memainkan pita suara. Secara simultan, kontestan harus “terjebak” dalam persoalan memahami pasar, menjalin relasi dengan komunitasnya, dan tetap mengoptimalkan diri dalam berolah suara.

Sementara dari sisi penyelenggara kontes-kontes seperti ini persoalannya menjadi sangat sederhana, berapa voters atawa jumlah suara yang dapat dikumpulkan oleh masing-masing kontestan. Di sini, persoalan bisa jadi tidak lagi berbasis pada tingkat kualitas peserta dari persoalan teknis menyanyi atawa bermusik. Persoalan utama justru seberapa jauh kontestan dapat mengubah penonton yang pasif menjadi voters yang aktif mengisi pundi-pundi penyelenggara. Pengumpul suara terkecil akan tersingkir. Titik.

Tentang Masyarakat Serba Bayar (pay-per society)
Kontes mengandalkan voting penonton dapat dipandang sebagai arus balik pemikiran tentang khalayak media massa. Tradisi dan karakteristik media massa, yang bergerak dengan model linier, menempatkan khalayak sebatas penonton dan penikmat ( “penyantap” menu yang disajikan stasiun TV). Tontonan sejenis Idol mencoba menggeser posisi tersebut. Khalayak tidak lagi pasif, namun diberi peluang untuk aktif sebagai pengambil kebijakan dalam produksi. Penyelenggara menyediakan kontestan, sedangkan kontestan yang tampil adalah yang dimaui paling banyak voters (bukan penonton).

Model voting oleh khalayak menjadikan tayangan media massa memiliki karakteristik interaktif. Karakteristik ini tidak dapat dilepaskan dari kontribusi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang lain. Lebih khusus lagi, TIK yang mampu menumbuhkan pay-per society (masyarakat serba bayar dalam memanfaatkan TIK), sebagaimana yang berkembang saat ini (meminjam istilah Vincent Mosco). Untuk setiap vote yang digunakan, penonton harus masuk dalam “jebakan” pay-per call (via premium call) ataupun pay-per text (via SMS). Dengan kata lain, apapun cara yang digunakan penonton untuk menyampaikan aspirasinya yang dapat mempengaruhi kebijakan penyelenggaraan, penonton harus “membeli” sepenggal kuasa tersebut. Lalu, apa yang diperoleh voters dari pilihannya? Sebagai gratifikasi, voters memperoleh sedikit kepuasan bila peserta yang didukungnya tetap tampil dan……..sedikit kejutan kecil kalau dapat undian.

Posisi voting menjadi sangat strategis karena merupakan salah satu roda ekonomi dari kontes semacam ini. Berangkat dari logika ini, kontes seperti ini tidak sekadar ajang adu prestasi menyanyi ketika berbaur dengan berbagai kepentingan, termasuk bergeraknya mesin kapital. Dari tarik-menarik berbagai kepentingan tersebut, tidak dapat dipungkiri kalau mesin kapital yang dominan. Maka yang kemudian dicari bukan sekadar penyanyi yang berkualitas, akan tetapi yang memiliki kekuatan untuk memutar roda kapital lebih cepat.

Di sinilah kemampuan selain teknik menyanyi dan bermusik menjadi penting untuk dikembangkan. Kontestan akan sangat terbantu bila memperoleh data demografis penonton Idol yang empirik dan kecenderungan perilaku voters dalam memilih. Melalui data tersebut, setidaknya kontestan yang memahami “selera pasar” dapat menentukan pilihan lagu yang akan dibawakannya. Kecenderungan yang sekilas nampak dari pilihan lagu, kontestan seringkali terjebak pada lagu-lagu yang sedang hits tanpa ada keberanian untuk menyentuh persoalan style. Tidak jarang kontestan harus bersusah payah untuk melepaskan diri dari epigon. Keberanian Aji dengan mengubah style “Ketahuan” menjadi swing merupakan kreatifitas yang sangat orisinal. Persoalannya, seberapa jauh kreatifitas Aji bertahan dari minggu ke minggu untuk senantiasa membuat “kejutan” seperti itu?

***************

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...