Tentang Indonesian Idol [29 Mei 2008]
Menonton Indonesian Idol semalam bagaikan anti klimaks. Ketika sampai pada 10 besar, dengan tema “Super Band”, yang terjadi justru nyaris tidak ada yang super. Satu dari pilihan juri terbukti, dan Tifany [sesuai prediksi Titi DJ] harus keluar dari orbit idola. Dari kacamata kontes menyanyi, pilihan voters tidak salah, bahkan sangat rasional. Sedangkan dari sisi tontonan, keluarnya Tifany dari orbit cukup mengejutkan. Bagaimanapun juga, dari sisi penampilan “fisik” [maaf], Tifany tergolong yang “enak dipandang”. Akan tetapi, inilah dunia hiburan yang sangat kental dengan kekuatan pasar. Bahkan para juri yang notabene kenyang asam garam pasar musik terkadang harus menelan pil pahit ketika prediksinya nol besar.
Acara kontes menyanyi seperti ini memang memiliki daya tarik tersendiri, mengingat kompleksitasnya. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh para kontestan agar dapat tetap bertahan menginjakkan kaki di lantai pentas. Sisi lain yang harus menjadi fokus peserta di samping kapasitas dalam bernyanyi adalah kemampuan dalam melihat karakteristik pasar yang sebenarnya. Hal inilah yang menjadikannya tidak sekadar kontes menyanyi. Sekalipun juri senantiasa mengingatkan kontestan bahwa pemunculannya merupakan bagian dari kontes menyanyi, akan tetapi faktor non-menyanyi merupakan bagian vital dari kelangsungan kontestan dalam menapaki orbitnya.
Tentang Kejutan Aji Versi 2 dan Saran untuk Richo
Kontestan berambut kribo yang munggu lalu membuat kejutan dengan swingisasi lagu Ketahuan dari kelompok Matta, tadi malam cukup kecut berada pada 3 bawah. Begitu pula dengan Richo, yang sebelumnya sering mendapat pujian juri, akhirnya harus senam jantung menanti keputusan karena harus berdampingan dengan Tifany.
Tentang Aji, secara umum penampilannya masih di atas rata-rata kontestan. Bagi tentangblog, pesaing berat Aji hanyalah Aris (ini dari sisi musikalitas dan kematangan penampilan di atas panggung). Mungkin, khalayak berharap besar pada Aji untuk membuat terobosan lagi, sebagaimana yang terjadi di penampilan minggu lalu, dan setelah ditunggu kejutan itu tidak muncul. Dari sisi kualitas penampilan, Aji seharusnya masih berada pada posisi aman. Akan tetapi voters yang kecewa tidak menginginkan posisi tersebut. Jadilah Aji harus “kebit-kebit” pada posisi 3 bawah.
Tentang Richo, tentangblog punya penilaian lain, dan ini bukan pada persoalan teknis menyanyi. Semoga saja ini bisa jadi masukkan yang berarti.
Dalam dua kali pementasan (tadi malam dan minggu lalu), tampilan Richo terkendala pada “respon” terhadap komentar juri. Minggu lalu, ketika “ditantang” untuk memunculkan suasana romantis sempat muncul ungkapan “….kalau yang lain hanya mengandalkan bla-bla-bla (yang berkonotasi materi),…untuk saya hanya butuh 1000 rupiah (bla-bla-bla)…..”, yang ditutup dengan mengimprovisasi lagu “happy birthday” [maaf kalau kutipannya tidak sama persis, semoga gambaran besarnya dapat ditangkap]. Bagi tentangblog ungkapan tentang “….kalau yang lain….” Sebaiknya tidak harus muncul. Kalimat “untuk membangun suasana romantis, saya hanya butuh 1000 rupiah…..” sebenarnya sudah cukup. Di sini Richo tidak harus mendiskreditkan kelompok tertentu. Betul, ini hanyalah persoalan kecil, namun dapat menjadi bomerang.
Pada penampilan tadi malam, Richo terjebak pada kesalahan yang sama ketika menjawab pertanyaan Daniel tentang responnya terhadap komentar Anang. “….mas Anang tidak pernah bernyanyi di kafe….” dan berlanjut pada “…..ini bukan arisan keluarga…” Di sini tentangblog melihat adanya keberanian berbicara di depan publik, namun tidak diimbangi kedewasaan dalam memilih kata dan menyusun kalimat. Nampaknya pelajaran public speaking yang diberikan untuk kontestan Idol tidak cukup signifikan untuk kasus Richo.
Ada sejumlah alasan yang digunakan tentangblog untuk dasar penilaian. Yang pertama, kontes menyanyi seperti ini sangat diperlukan kesadaran dalam membangun simpati pada khalayak, yang berujung pada berubahnya posisi dari khalayak menjadi voters. Ini kunci penting yang harus menjadi pegangan bagi kontestan. Tidak semua penonton Indonesian Idol yang berada di depan TV merupakan voters. Untuk mengubah posisi dari sekadar penonton menjadi voters adalah persoalan tersendiri, yang harus dibangun oleh kontestan. Sayang sekali, data statistik voting hanya menjadi rahasia dapur pengelola. Akan tetapi tentangblog meyakini bahwa kemampuan untuk menarik simpati terkadang lebih dominan ketimbang kualitas menyanyi itu sendiri. Perjalanan Indonesian Idol yang sudah masuk pada tahun ke-5 mencatat bahwa sisi musikalitas (dari ukuran penilaian juri) tidak harus sama dengan kemauan voters.
Kedua, gaya Indonesian Idol tidak sepenuhnya menggunakan standar American Idol. Penyesuaian program siaran dengan muatan lokal nampak dari masih seringnya usaha untuk beradaptasi dengan “pasar” Indonesia yang senang bermain air-mata. Sebagaimana yang terjadi pada kontes sejenis pada program siaran yang lain. Dihilangkannya lagu tema Indonesian Idol untuk tahun ini sudah menyiratkan hal tersebut. Salah satu pesan yang tersurat dari lirik lagu tema adalah tidak ada air mata dalam kontes Idol. Dalam konteks penyesuaian seperti ini, setidaknya kontestan menyadari bahwa Indonesian Idol tidak identik dengan American Idol.
Yang terakhir, Indonesian Idol bukanlah ajang debat yang harus memunculkan perdebatan. Olok-olok antara Daniel dengan Anang merupakan bumbu-bumbu pembangun suasana. Simak saja ketika Indra Bekti “harus” menggantikan posisi Daniel, Indra Bekti pun ikut-ikutan “mancing” emosi Anang. Menghadapi situasi ini, kontestan tidak harus terpancing dalam perdebatan tersebut. Posisi kontestan berbeda dengan “mereka yang ada dalam lingkungan pengelola.” Kekuatan rejim durasi yang disiplin waktu masih nampak pada acara ini, yang menjadikan posisi respon kontestan terhadap komentar juri menjadi sangat terbatas. Dengan kata lain, kembali pada persoalan diperlukan kecermatan dalam memilih kata, struktur kalimat yang efektif, dan yang penting…..mampu menumbuhkan simpati.
***********************