Tentang Blogger, Hacker dan ……. undangan Menkominfo

Posted on April 7, 2008. Filed under: Tentang ICT | Tags: , , , , , , , , , , , , |

Kalau undangan tersebut benar, maka malam ini para blogger dan hacker diundang Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) untuk berdialog di lantai 7 Gedung Kementerian Komunikasi dan Informasi di Jakarta. Menurut Staff Khusus Menkominfo, sebagaimana dikutip okezone, undangan tersebut merupakan bagian dari sosialisasi UU ITE dan tidak terkait dengan perilaku hacker.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, siapakah mereka (blogger dan hacker)?

Untuk menjawab kedua kategori undangan tersebut tidaklah sulit. Yang, pertama bloggers. Untuk mencari yang satu ini sangat mudah, toh bloggers bertebaran dan kasat mata. Kalaupun tokoh di balik blog tidak menampilkan diri terang-terangan, seperti tentangblog [tentang hal ini akan ada pembahasan khusus, sabar ya?], undangan pun tetap dapat disampaikan. Untuk menentukan bloggers yang layak diundang pun tidaklah terlalu sulit. Setidaknya metode pengukuran yang diusulkan Kinniburgh dan Denning dari JSOU melalui makalahnya “The Blogs and Military Information Strategy” dapat diaplikasikan untuk tujuan tersebut. Ini kalau Kementrian Kominfo memiliki strategi untuk bermain-main public relations yang benar. Tapi bukankah staff di Kementerian Kominfo merupakan figur-figur yang tidak asing dengan strategi dan taktik public relations seperti itu? Pertanyaan tersebut pastinya tidak perlu dijawab. Jawabnya sudah pasti lah yauw.

Nah untuk mencari hacker juga tidaklah sulit. Adanya tuduhan terhadap blogger dan hacker sebagai “penyusup” berbagai situs di negeri ini mengindikasikan blogger dan hacker senantiasa diidentifikasi dan dipantau. Dengan kata lain blogger dan hacker sudah masuk dalam “rumah kaca” panoptik. Maka berbahagialah para blogger dan hacker, bahwa suara-suara yang muncul di situs maupun blog dapat sampai ke sasaran dengan baik. Ambil sisi positifnya saja.

Tentang Panoptik
Panoptik bukanlah konsep baru. Ketika para pengamat sosial di negeri ini sedang demam Foucault, konsep panoptisisme termasuk salah satu yang populer dibicarakan terkait dengan persoalan disiplin dan kekuasaan. Lebih lanjut tentang panoptisisme dapat dibaca di sini.

Oscar H. Gandy Jr. menggunakan konsep panoptic sort untuk aplikasi bisnis dalam kerangka kapitalisme global. Dalam konsep Gandy, panoptic sort digunakan menjelaskan proses penyortiran data individu ataupun kelompok sesuai dengan nilai-nilai ekonomis dan politis menggunakan teknologi tinggi. Konsep ini mengacu pandangan Kevin Robin dan Frank Webster tentang “cybernetic capitalism”, yang berimplikasi pada sistem pengendalian sosial secara menyeluruh melalui mekanisme mengumpulkan, memroses, dan berbagi sejumlah besar informasi individu untuk melacak, memerintah, mengatur dan mengendalikan masing-masing individu tersebut. Ini sebenarnya esensi dari bentuk masyarakat informasi, ketika siapapun menguasai data dan informasi berlebih, akan memiliki potensi untuk menguasai. Information is power.

Dalam kerangka berpikir fungsionalisme, penguasaan data kartu kredit dalam kasus pemalsuan kartu kredit yang marak beberapa waktu lalu merupakan bentuk disfungsi dari panoptic-sort. Kalau dalam logika berpikir Dennis Goullet, yang pernah disinggung tentangblog terkait dengan teknologi aebagai ”pedang bermata dua”, panoptic sort memiliki sisi negatif yang memang sudah ada dari arsitektur teknologi komunikasi dan informasi.

Dalam konteks samudra maya, konsep panoptic sort menjadi bagian yang sangat mendasar terkait dengan protokol aliran data dan informasi. Hal ini dilakukan melalui penempatan protokol tersebut dalam sistem operasi (terutama windows, untuk linux atawa opensource yang lain tentangblog belum menjelajahi). Secara default, sistem operasi akan mencatat segala lalu lintas informasi yang digunakan oleh pengguna. Sementara layer di atasnya pun akan senantiasa mencatat aktifitas work station yang terkoneksi dengannya. Di sinilah tentangblog meminjam istilah ”Rumah Kaca” dari Pramoedya Ananta Toer untuk menggambarkan panoptic sort. Sebagai kasus saja dapat disimak dari yang sederhana praktek yang dilakukan sitemeter.com. Teknologi yang digunakan sitemeter.com mampu melacak pengunjung situs sampai pada spesifikasi komputer yang digunakan pengunjung. Efek rumah kaca menempatkan individu pemegang kuasa atas informasi seperti halnya melihat berbagai makhluk hidup di dalam ”rumah kaca” tanpa harus berinteraksi dengannya. Dalam konteks negara, hal ini merupakan wilayah kerja intelijen (bukan intel inside).

Akankah undangan Menkominfo pada blogger dan hacker untuk pengidentifikasian? Jawabnya jelas…. TIDAK!!!! Di negeri sebebas negeri tercinta ini, bukan lagi saatnya untuk melakukan itu. Toh, paparan di atas telah menjelaskan hal tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara. Namun sebagai strategi public relations, dengan model endorsement, sangat jelas bahwa staff ahli Menkominfo tidak berpikir ke arah itu. Nah yang perlu dicermati adalah hasilnya. Kita tunggu saja.

Kalau menurut tentangblog sih, masih banyak pekerjaan Kominfo yang belum tuntas. Sebagai salah satu tangan kabinet di negeri ini, Kominfo punya tanggung jawab terhadap persoalan komunikasi kabinet dengan masyarakat. Di sini, tentangblog membayangkan Kominfo juga memiliki peran sebagai public relations dari kabinet. Pak Menteri, masih banyak loh situs-situs instansi pemerintah (bahkan di tingkat kementerian) yang ”sekali lalu mati”, sekali dibuat dan tidak di-update. Banyak juga situs-situs pemerintah yang masih pamflet semata, dan belum mengarah pada embrio e-government. Atau barangkali, urusan aturan main dibenahi dulu, baru e-government-nya dijalankan? Sudahlah, tentangblog pusing. Yang tahu cuma Menkominfo dan jajarannya.

********************

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...