Tentang Militer dan Blog
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain blog-nya. Begitu kiranya pepatah yang tepat untuk menggambarkan hasil penelitian “Blogs and Military Information Strategy” (BMIS) yang dilakukan oleh James B. Kinniburgh [Major USAF] dan Dr. Dorothy E. Denning [guru besar tentang analisis pertahanan di Naval Postgraduate School di Monterey, California]. Gila, ini jadinya kalau serdadu cerdas berkolaborasi dengan kampuser (akademisi). Penelitian yang dipublikasikan bulan Juni 2006 lalu oleh Joint Special Operations University (JSOU Report 06-5), saat ini menjadi biang tulisan di sejumlah situs. [untuk lebih jelasnya, laporan tersebut dapat diakses di sini dan di sini].
Untuk tulisan ini, tentangblog memberanikan diri berdiskusi dengan seorang teman, yang kebetulan kampuser. Jadi, jangan heran kalau tulisan ini terkadang melambung tinggi di angkasa, bahkan tentangblog sendiri tidak paham. Celakanya, kampuser teman tentangblog ini enggan dipublikasikan identitasnya. Jadi, maaf sekali lagi maaf kalau nanti ada kalimat “menurut sumber yang layak dipercaya dan tidak tidak bersedia disebutkan identitasnya”. Dengan demikian, tanggung jawab tulisan ini sepenuhnya ada pada tentangblog. Artinya, kalau ada pertanyaan ataupun kritik yang tentangblog tidak dapat menjawabnya, tentangblog akan konsultasi lagi dengan konsultan spiritual tersebut.
Ketika saya goda dengan pertanyaan berikut:
“alergi ya dengan blog? Atau jangan-jangan “gaptek”, ga bisa bikin blog?”
Dia cuma ngakak, sembari mengumpat “Sialan”.
Nah, berikut ini ringkasan konsultasi tentangblog dengan konsultas spiritual tersebut:
Yang menarik dari penelitian ini adalah:
1. BMIS statusnya lebih sebagai kajian akademik ketimbang bagian dari kajian strategi militer. Makalah dengan distibusi “unlimited” sama halnya dengan informasi umum yang menjadi “rahasia umum”. Yang lebih menarik, kemunculan laporan ini dalam perdebatan di ranah saiber ketika Amerika sedang dimabok politik pemilihan calon presiden intra partai. Laporan penelitian ini seakan jadi sistem perangatan dini bagi siapapun terhadap strategi kampanye melalui internet dan blog khususnya. Sebagai naskah akademik yang terbuka, kemungkinan besar tidak digunakan oleh militer Amerika sendiri.
Nah, bagi kita di negeri tercinta ini, laporan ini jadi sangat relevan dengan agenda 2009. Kalau selama ini ada “watch-watch-an”, bisa jadi ke depan disiapkan “watch” untuk situs atau blog yang berafiliasi capres atawa parpol tertentu.
2. Cerita tentang keberhasilan blog dan blogger hingga menembus pusat-pusat kekuasaan di berbagai sektor. Termasuk ke puncak kekuasaan politik Amerika. Dengan kata lain, blog bukan lagi sekadar hobi narsis mejeng di layar monitor online. Tentang hal ini, temen tentangblog memperingatkan, “ingat Blog, motivasi orang nge-blog itu beragam, dan ini akan ngaruh pada karakter blog-nya“.
Kekuatan blog sebagai bentuk jaringan sosial baru di gelombang selancar maya menunjukkan kekuatan blog. Dari sisi penguasa (hal ini tidak terlepas dari posisi struktural OJSU), reputasi sebuah blog ataupun blogger dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rencana besar kampanye online sebagai bagian dari influence operations. Di sini blogger tak lebih sebagai alat atawa public relations (humas) tersembunyi.
Kondisi sebaliknya tentu dapat diberlakukan. Kekuatan relasi sosial antar blogger dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mengendalikan (control) kekuasaan. Solidaritas blogger tak ubahnya kapital sosial yang mampu menjadi kontrol internal komunitas blogger, sekaligus menjadi pagar bagi intervensi kepentingan tertentu untuk memanfaatkan blog dan blogger. Rekrutmen terhadap blogger yang memiliki reputasi tinggi untuk terlibat dalam proses pembentukan opini ataupun influence operations menempatkan blogger pada posisi yang sangat strategis. Kalaupun ada blogger yang silau dengan kekuasaan, sehingga akhirnya masuk ke lingkaran dalam kekuasaan, harus disikapi dengan bijak. Toh, blogger juga manusia. Namun, tentangblog yakin bahwa masih banyak blogger yang tak tergiur dengan posisi tersebut, dan konsisten memposisikan diri berseberangan dengan kekuasaan.
3. Makalah ini memberikan panduan pengukuran popularitas dan reputasi blog, menggunakan berbagai fasilitas yang tersedia di internet (Technorati, Alexa). Setidaknya hal ini dapat digunakan bagi mereka yang tertarik untuk meneliti fenomena di ranah saiber dari konteks relasi sosial melalui blog hingga aspek bisnis blog.
4. Makalah ini mengutip model W.L. Bennett tentang hubungan antara 3 lapisan infosphere (information atmosphere) sebagai wadah distribusi informasi, yakni:
a. Layer Konvensional (mass media)
b. Layer tengah, blog-blog populer dan memiliki reputasi (webzines, advocacy groups, etc.)
c. Layer mikro (e-mail, mailing lists, and personal blogs).
Dinamika aliran informasi di dalam infosphere setidaknya menunjukkan adanya interaksi 3 layer tersebut secara timbal balik. Dengan kata lain, perdebatan di layer mikro dapat terjadi sebagai akibat dari distribusi layer di atasnya. Namun, kondisi sebaliknya bisa juga terjadi, tampilan di media massa konvensional merupakan akumulasi dari distribusi informasi yang berlangsung di layer bawahnya. Menurut teman tentangblog, posisi layer tengah terkadang tidak fungsional. “Hati-hati blog, model Bennett mungkin cocok untuk dipraktekkan di Amrik. Untuk di Indon atau negara lain, model tersebut belum tentu sesuai”. Terutama ketika media massa konvensional sudah konvergen dengan media online, yang memungkinkan media massa membangun forum-forum diskusi di dalam situs mereka. “Dulu KOMPAS membangun komunitas di beberapa kota dengan mengumpulkan pelanggan ataupun pembacanya, nah sekarang komunitas KOMPAS dapat dibangun juga melalui situsnya”.
Di sini teman tentangblog memberikan jurnal dengan topik khusus “Newspapers’ Survival” dari Nieman Report Vol. 60 No. 1 Spring 2006. Konon, jurnal ini membahas tentang kekhawatiran kalangan media massa cetak di Amerika terkait dengan wabah blog yang kemudian memunculkan konsep jurnalisme warga (citizen journalims). Satu kalimat yang dikemukakan Tim Porter (mantan reporter yang beralih profesi menjadi konsultan media) mengawali jurnal tersebut “Reinvent or die. It’s that simple,”
Kalimat Porter pun harus disimak dengan seksama, dan jawabannya pun kembali pada 2 hal yang sempat didiskusikan di atas. Yang pertama, “Reinvent or die. It’s that simple” mungkin relevan di Amrik, apakah di Indon juga terjadi hal yang sama? Yang kedua, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain juga korannya”
Kok link download filenya error mas?
Padahal lagi butuh nih nglihat penelitian ttg BLog…
Zulfi
June 5, 2008
pro mas Zulfi
thanks infonya
tentangblog
June 5, 2008