Tentang Chrisye dan Progressive Rock (2)
Tentang Kegelisahan
Prog-rock tampil ke permukaan sebagai hasil dari sebuah pencarian dan kegelisahan para musisi rock di Amerika Serikat dan Eropa pada dekade 60-an. Era ini ditandai berbagai gerakan sosial budaya yang intinya bermuara pada anti kemapanan.
Sebagaimana nama yang digunakan, progressive, menunjukkan adanya dinamika yang menuju ke arah kemajuan, perkembangan, pertumbuhan dan lain sebagainya yang terkait dengan progress itu sendiri. Penjelajahan prog-rock tidak hanya dilakukan pada aspek musikalitas melalui genre (atau sub-genre) hingga penjelajahan pada wilayah ethnik lintas kultural (penggunaan alat musik hingga kolaborasi artis). Lirik dan thema lagu ataupun thema album merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan dalam kaitan untuk mencari gerak maju tersebut. Di sinilah mulai diperkenalkan album konsep (conceptual album), yang menjadikan sebuah album tidak sekadar terdiri dari sekumpulan lagu. Album konsep lebih merupakan naskah sebuah narasi yang utuh, dengan lagu sebagai elemen dalam bercerita.
Aplikasi album konsep merupakan langkah yang diambil The Beatles dengan Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band (1967). Album ini dianggap sebagai tonggak munculnya prog-rock, ketika The Beatles tidak hanya membangun dan mengembangkan album tersebut sebagai sebuah narasi. Album ini dipandang menjadi masterpiece pencarian The Beatles, bahwa rock bukanlah musik remaja belasan tahun yang dengan mudah dimobilisasi dengan beat-beat yang menghentak dan lirik-lirik yang beraroma kasmaran ingusan. Konon, untuk itu The Beatles harus merelakan turun panggung dan “bertapa” di Abbey Road (nama studio musik yang seakan terepresentasikan The Beatles) selama 8 bulan, mulai dari merancang, menggubah, memainkan hingga turun langsung dalam pengendalian dan manajerial perekaman.
Sementara dari sisi musikalitas sendiri, prog-rock mencoba melacak lagi musik yang menjadi akarnya. Upaya untuk memasukkan unsur blues dan jazz tidak terlepas dari konteks ini. Permainan blues dan jazz, yang sangat kental dengan improvisasi individual dalam menyikapi dan bereaksi terhadap atmosfir permainan yang sedang berlangsung sangat terkait dengan kapasitas musisi dalam penguasaan alat musik. Upaya lain yang dilakukan adalah masuknya unsur musik klasik dalam gubahan musisi prog-rock. Tidak dapat dipungkiri, banyak musisi prog-rock yang berakar pada pendidikan formal musik klasik mencoba merujuk kembali ranah tersebut. Model seperti ini dapat disimak dari dimainkannya repertoire klasik dalam semangat rock, simfonisasi lagu-lagu rock, atau bahkan memasukkan unsur-unsur klasik dalam musik rock.
Penjelajahan pada lintas kultural pun dilakukan dengan eksplorasi pada wilayah-wilayah etnik dengan memasukkan unsur musik etnik dalam rock. Kolaborasi dengan musisi dari berbagai belahan dunia (terutama India dan Afrika) dilakukan oleh banyak musisi barat dalam mencoba menggali eksotisme Timur.
Upaya yang dilakukan musisi prog-rock menunjukkan adanya semangat reformasi besar-besaran sebagai sikap menghadapi stagnasi. Mode produksi industri musik nampaknya menjadikan para prog-rocker gerah karena keterkungkungan dan kemapanan formulasi-formulasi yang pada ujungnya bermuara profit. Sementara dari sisi benefit secara psikologis, aktualisasi diri secara musikalitas, tidak tercapai. Selera fans menjadi berhala yang harus diberi sesembahan yang sama dari waktu ke waktu. Dalam mode produksi industrial, sebuah resital pada akhirnya menjadi ritual sesembahan musisi pada berhala yang bernama “pasar”, bukan pada pencapaian musikalitas. Kesetiaan dan komitmen dalam menjaga formulasi-formulasi musik industri menjadi kunci yang menjadikan musisi takut untuk melangkah ke depan. Atau, mungkin mereka justru merasa nyaman dan terlenakan dalam kungkungan tersebut. Ingat…..popularitas bukanlah hal yang murah.
[...] blogger lain bernama ‘tentangblog’ dalam blognya pada 3 April 2007 menulis tentang Chrisye dan progressive rock (2). Ia menyinggung album konsep sebagai, naskah [...]
Concept Anthology: Alternatif Dalam Penggarapan Kumpulan Puisi (I) — Lentera Susastra
November 29, 2007
Salam Kenal……
sehubungan dengan ini saya mengundang rekan rekan yang peduli dengan musik indonesia untuk dapat hadir dalam pementasan musik mahagenta
“Tradisional Phantom Of The Opera”
di Graha Bhakti Budaya , Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Tanggal 3 Juli 2008.
jam 20.00 s/d selesai.. Terima kasih
salam budaya…..
aneomen
April 26, 2008