Tentang Chrisye dan Progressive Rock (1)

Posted on March 31, 2007. Filed under: Tentang Musik |

Chrisye telah berpulang. Semua tahu, semua terpaku, terharu, dan kelu…… Selamat Jalan Kekasih pun terasa biru.

Dalam kaitan dengan keberpulangan Sang Legenda, Tentang Blog mencoba untuk sedikit berbagi kata dan semoga bermakna.

 

 

Tentang Guruh Gipsy

Bila disimak dari situs resmi Graha Maya Chrisye, perjalanan karir Sang Legenda tidak dapat dilepaskan dari Kelompok Gipsy dan Guruh Gipsy.

 

 

Sebagai sebuah band, Gipsy, yang dibentuk tahun 1969, merupakan metamorfosis dari band Sabda Nada (1966), yang diawaki oleh Ponco Sutowo, Gaury Nasution, Keenan Nasution dkk. Chrisye sendiri bergabung dengan Sabda Nada pada tahun 1968 sebagai pencabik bass. Perubahan Sabda Nada ke Gipsy tidak terlepas dari perubahan formasi di dalamnya. Gauri Nasution (guitar), Keenan Nasution (drum), dan Chrisye (bass) sebagai formasi inti (Sabda Nada) memasukkan Onan (keyboard), Tammy (trumpet/sax), dan Atut Harahap (vokal).

 

Sebagai kelompok musik yang lahir dan berkembang di kalangan atas Jakarta, Gipsy dapat dikatakan merupakan band kelas atas. Gipsy dikenal sebagai kelompok yang memainkan “repertoir” kelompok rock kelas dunia pada jamannya, seperti Blood, Sweat & Tears, Procol Harum, King Crimson, Genesis, Chicago dan ELP (Emerson, Lake dan Palmer), yang kemudian dikenal sebagai kelompok progressive rock.

 

Pada tahun 1971, Gipsy mengubah formasi menjadi Keenan, Gaury, Chrisye, Rully Djohan, Aji Bandi, dan Lulu. Dalam formasi ini Gipsy sempat menjadi homeband dari Ramayana restaurant di New York. Dari sinilah (mungkin) identitas diri dan nasionalisme tumbuh ketika Gipsy tidak harus menjadi cover version kelompok musik lain dan secara total berkiblat ke barat. Eksperimen pun dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur musik Bali di dalam pertunjukkannya. Tidak lebih dari setahun, kelompok ini kembali ke tanah air dan menghadapi kevakuman, walau tidak juga dibubarkan.

 

Kegelisahan Gipsy dengan identitas diri dan nasionalisme nampaknya ditangkap Guruh Soekarno Poetra, yang juga memiliki ketertarikan tinggi terhadap musik dan kesenian, dan memiliki kegelisahan yang sama tentang “MUSIK INDONESIA”. Tahun 1975 Guruh merangkul Gipsy untuk bereksperimen dalam menyatukan barat dan timur, dengan menggabungkan musik bergenre rock dan gamelan Bali. Guruh Gipsy muncul dengan formasi – Keenan Nasution (drums,vocal), Chrisye (bass,vocal), Abadi Soesman (mini-moog), Roni Harahap (piano & organ), Odink Nasution (guitars), Guruh Soekarno (gamelan). Tahun 1977, kolaborasi ini menelorkan album album Guruh Gipsy, yang dipandang sebagai album spektakuler, dari sisi pencapaian musikalitas. Pada album ini Guruh Gipsy menampilkan pula Trisuci Kamal (piano), Gauri Nasution (guitar), Hutauruk Sisters (back up singers), I Gusti Kompyang Raka (Gamelan Bali), dan Orkestra RRI. Album Guruh Gipsy menyajikan 6 trak karya orisinal mereka dalam bentuk kaset, yakni Indonesia Maharddika (15:43), Chopin Larung (7:19), Barong Gundah (6:57), Janger 1897 Saka (8:53). Geger Gelgel (12:04) dan Smaradhana (2:26)

 

Tentang Progressive Rock

Agak sulit sebenarnya untuk menjelaskan jenis musik yang satu ini. Banyak pengamat musik menyatakan bahwa karakter progressive rock cenderung menempel pada band atau musisi, ketimbang sebagai sebuah genre. Dalam hal ini, Tentang Blog berani memastikan bahwa progressive rock merupakan sub-genre dari genre rock. Nah, persoalannya kemudian kembali pada rock seperti apa yang dikategorikan dalam sub-genre ini?

 

 

Tentang Rasa

Sekali lagi…. tidak mudah untuk memberikan penjelasan tentang progressive rock atau seringkali disingkat dengan prog-rock dan prog saja. Akan tetapi bukan berarti hal tersebut tidak dapat dijelaskan. Tentang Blog pun bisa memastikan bahwa fans sub-genre ini pasti akan kelabakan bila harus menjelaskan apa dan bagaimana prog-rock. Namun bila dihadapkan pada penilaian atas musik, fans prog-rock dapat membedakan mana yang prog dan mana yang bukan. Nah, aneh kan? Tidak aneh kalau intinya bermuara pada “rasa”. Celakanya, modernisasi yang diajarkan di negeri ini seringkali justru mematikan hal itu. Tidak dapat dipungkiri, rasionalitas modern yang ditebarkan rejim di negeri ini telah menyingkirkan kearifan lokal yang dianggap tidak rasional, karena lebih bersifat subyektif dan emosional.

 

 

Kembali pada prog-rock. Mungkin kalau mau melacak kepustakaan musik, pengkategorisasian semacam ini telah dipetakan. Karakteristik prog-rock yang agak komprehensif dapat dilacak di wikipedia.

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...